PEMANFAATAN AMPAS KOPI MENJADI SUMBER ENERGI

Publikasi : 04 June 2018 12:08:05

Salah satu tenan Inkubator Teknologi LIPI yang berasal dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI berhasil memanfaatkan ampas kopi menjadi sumber energi. Pelet yang berasal dari tumbuhan memiliki potensi menjadi sumber energi yang ramah lingkungan, salah satunya adalah pelet dari  ampas kopi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar karena memiliki nilai kalor yang setara dengan kualitas batubara energi rendah.

Pelet kayu atau woodpellet yang dikembangkan sebagai bahan bakar sejak lima dekade terakhir memiliki kelemahan terkait jumlahnya yang terbatas dan belum mampu memenuhi permintaan industri, oleh karena itu dibutuhkan sumber bahan baku alternatif untuk mengatasi hal ini. Karena masalah tersebut, peneliti dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI yaitu Dr. Lisman Suryanegara M.Agr mencari alternatif lain untuk sumber biomassa sebagai tambahan kayu yang tak lain adalah ampas kopi. Ampas kopi dipilih beliau karena Indonesia merupakan penghasil kopi yang signifikan di dunia. Beliau menamai produk yang dihasilkannya itu dengan biopelet.

Pada mulanya, limbah kopi ini diolah menjadi pupuk tanaman, biogas, ataupun pakan ternak. Namun ternyata, setelah diproses menjadi biopelet, ampas kopi ini memiliki nilai kalor yang tinggi. Hasil uji menunjukkan bahwa biopelet buatan beliau ini memiliki nilai kalor 5.000 – 5.100 kal/gr atau setara dengan kualitas batubara energi rendah. Sedangkan untuk woodpellet sendiri memiliki nilai kalor sekitar 4.100 kal/gr.

Beliau mengatakan, proses pembuatan biopelet ini cukup sederhana, yakni dimulai dari proses pengeringan ampas kopi dengan menggunakan pengering putar yang kemudian ampas kering dimasukkan dalam pelletiser atau alat pembuat pelet yang secara otomatis mengubah serbuk kopi dan atau tanpa serbuk kayu menjadi pelet.

Biopelet dari ampas kopi ini pun pernah diujicobakan pada pabrik tekstil di Bandung yang menggunakan bahan bakar batubara. Nyala api yang dihasilkan dari biopelet ini berwarna merah-oranye serta tidak mengeluarkan asap pada awal pembakaran. Dari hasil uji coba per hari diperoleh untung Rp. 1.500.000.

Beliau mengatakan bahwa Pusat Penelitian Biomaterial LIPI mengembangkan produk biopelet ini untuk industri kecil di Indonesia. Sasaran awalnya adalah fasilitas pengolahan makanan tradisional, seperti pabrik tahu dan kerupuk, yang selama ini menggunakan woodpellet. Mereka menggunakan bahan bakar alternatif ini karena lebih murah dibanding gas, bahkan efisiensinya bisa mencapai 30- 40 persen dan lebih mudah dipakai.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan sejak dua tahun lalu ini memformulasikan takaran bubuk kopi dan serbuk kayu dalam beberapa nilai hingga menemukan perbandingan yang efektif dan efisien. Formulasi biopelet dari beliau ini telah dipatenkan. Beliau juga mengatakan bahwa LIPI akan menggandeng mitra untuk memproduksi dan memasarkan biopelet dalam jumlah besar.  

Sumber : PUSAT INOVASI LIPI