gambar PUSAT INOVASI JADI TUAN RUMAH THE 2017 SOUTHEAST ASIAN NETWORK FORUM KYOTO UNIVERSITY

Dalam rangka memperkuat strategi komersialisasi hasil penelitian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan diskusi terkait Commercializing Research and Development yang dalam acara The 2017 Southeast Asian Network Forum bertempat di Gedung Pusat Inovasi, Bogor (1/11). Forum ini merupakan kerjasama LIPI dengan Kyoto University dan Himpunan Alumni Kyoto University, yang bertujuan sebagai wadah diskusi dan sharing pengalaman dalam Commercializing Research and Development serta pengembangan Science Technology Park (STP).

Pelaksana Tugas Kepala LIPI, Bambang Subiyanto, dalam paparannya mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia mendorong kolaborasi antara lembaga penelitian, akademisi, industri dan pemerintah dalam komersialisasi hasil penelitian. Salah satunya dengan menjadikan STP sebagai program prioritas nasional.

Dari sisi regulasi, Pemerintah Indonesia telah mempunyai aturan hukum yang menunjang pengembangan alih teknologi. Bahkan seluruh lembaga penelitian dan universitas/perguruan tinggi yang ada di Indonesia telah diarahkan untuk melakukan pengembangan hasil penelitian melalui komersialisasi dan alih teknologi, agar hasil teknologi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri. 

Kedepan, keberadaan  Science Technology Park (STP) dapat menjadi suatu kawasan terpadu yang menggabungkan dunia industri, perguruan tinggi, pusat riset dan pelatihan, kewirausahaan, perbankan, pemerintah pusat dan daerah dalam satu lokasi yang memungkinkan aliran informasi dan teknologi secara lebih efisien dan cepat.

Forum ini menghadirkan beberapa narasumber yang memberikan pengalamannya dalam komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan STP. Salah satu narasumber yang hadir dari Kyoto University, Prof.Dr. Kayo Inaba memberikan contoh bagaimana strategi yang dibangun oleh Kyoto University dalam melakukan kolaborasi antara akademisi dengan industri. Kyoto University telah berhasil membangun strategi komprehensif kolaborasi antara akademisi dengan industri. Meskipun dari sisi resiko terhitung tinggi namun berhasil mendapatkan reward yang sebanding. Pada forum yang sama, dihadirkan juga pembicara dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Narasumber dari ketiga universitas tersebut juga memberikan pengalaman dan pengetahuannya terkait dengan pengembangan STP dimasing-masing universitasnya. (put)