SOSIALISASI PENGAJUAN KEKAYAAN INTELEKTUAL ONLINE DAN IDENTIFIKASI POTENSI KOMERSIALISASI HASIL PENELITIAN

SOSIALISASI PENGAJUAN KEKAYAAN INTELEKTUAL ONLINE DAN IDENTIFIKASI POTENSI KOMERSIALISASI HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian dan pengembangan (litbang) untuk sampai kepada masyarakat dan industri merupakan perjalanan panjang. Sebelum hasil litbang dimanfaatkan, perlu diantaranya ada perlindungan hak kekayaan intelektual (KI) seperti paten. Perlindungan  KI pada lingkup Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selain paten adalah hak cipta, desain industri, merek, dan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). KI yang dihasilkan peneliti LIPI dapat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan, melalui alih teknologi dan inkubasi teknologi. Namun bagaimana mekanisme alih teknologi melalui lisensi, perhitungan imbalan kepada inventor serta melakukan proses pengajuan pendaftaran KI agar cepat, praktis dan efisien bagi inventor di lingkungan LIPI, maka perlu adanya pencerahan mengenai hal tersebut.

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek LIPI menyelenggarakan sosialisasi pengajuan KI online dan identifikasi potensi komersialisasi hasil penelitian di gedung pilot plan 3/Laboratorium IVD PPII LIPI Cibinong  Kamis, 13/02/2020 . Pada kesempatan ini PPII LIPI menghadirkan nara sumber: Irwan Budhi Iswanto S.T., MBA. mempresentasikan materi tentang bagaimana mengajukan KI melalui Online, Th. Ningsi Astuti S.E. menyampaikan materi berjudul “Sosialisasi Mekanisme Alih Teknologi  dan Lisensi Lingkungan LIPI”. dan Setiowiji Handoyo, S.E., M.E. memaparkan seputar peran peneliti dan PPII dalam penciptaan Starup company/PPBT melalui pemanfaatan hasil riset. Peserta Sosialisai terdiri dari perwakilan peneliti di lingkup LIPI Cibinong antara lain dari: Satuan kerja lingkup Cibinong Science Pusat Penelitian Biologi, Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Pusat Penelitian Oseanografi, Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK, dan Pusat Penelitian Limnologi.

Proses alih teknologi/lisensi seperti yang disampaikan Th. Ningsi Astuti bahwa terdapat beberapa tahapan yaitu tahap analisis nilai invensi/royalti, negosiasi, kontak lisensi, pengelolaan pembayaran dan imbalan lisensi/royalti dan evaluasi kerjasama lisensi. Yang menarik perhatian adalah dalam manajemen  pembayaran dan imbalan lisensi terdapat perubahan aturan dari sebelumnya. Ningsi menjelaskan menejemen pembayaran dan imbalan lisensi di PPII sekarang mengacu kepada peraturan Menteri Keuangan RI No. 72/PMK.02/2015 dan Peraturan Kepala LIPI no. 1 tahun 2018 tentang tata kelola dan Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Penelitian dan Pengembangan di lingkungan LIPI. Salah satu dasar perhitungan imbalan lisensi/ royalti yaitu berdasarkan hasil perkalian dasar imbalan dengan tarif imbalan tertentu dengan lapisan sebagai berikut: Lapisan 1 : nilai 0 s/d ≤ 100 juta inventor diberikan imbalan 40%, Lapisan 2 : nilai 100 juta s/d ≤ 500 juta inventor diberikan imbalan 30%, Lapisan 3 : nilai 500 juta s/d ≤ 1 miliar inventor diberikan imbalan 20%, Lapisan 4  dengan nilai1 miliar <  inventor diberikan imbalan 10% .

Selanjutnya beliau menjelaskan prosentase imbalan yang diterima tergantung dari jumlah inventornya. Sebagai contoh bila hanya 1 orang maka DPI x tarif imbalan, namun bila inventor beberapa orang maka dibagi rata. Bagaimana jika inventor berjumlah 5 orang?, maka pembagiannya adalah ketua 40%, wakil ketua 30% dan anggota 30% (dibagi sama besar). Selain perhitungan imbalan bagi inventor orang yang biasa dipanggil sehari ibu treci ini memaparkan contoh perhitungan royalti paten POH, belanja imbalan jasa invensi dan lain lain.

Tentang alih teknologi hasil penelitian LIPI kepada masyarakat melalui inkubasi bisnis teknologi. Menurut Setiowiji pada presentasinya bahwa kegiatan alih teknologi meliputi  promosi inovasi  teknologi, valuasi KI, ekspose teknologi dan  temu bisnis, penguatan jejaring alih  teknologi, forum alih teknologi, pengelolaan lisensi teknologi, seminar & pelatihan  teknopreunership, dan kajian pengembangan  alih teknologi. Sedangkan kegiatan inkubasi teknologi terdiri dari seleksi & identifikasi  teknologi, valuasi KI, pendampingan kegiatan  pra inkubasi, pendampingan kegiatan  inkubasi, penciptaan Start-Up Company, pendampingan tenant, forum komunikasi  inkubator dan teknologi kreatif Award. Proses hasil litbang dapat sampai ke perusahaan/industri melalui tahapan perlindungan KI, valuasi/seleksi teknologi, pembuatan prototipe sesuai spek pasar, pra nkubasi, kegiatan inkubasi di inkubator LIPI.

Pengajuan perlindungan KI secara online sangat membantu para peneliti/inventor karena proses lebih cepat, mudah dan efisien. Terkait ini Irwan menjelaskan panduan pengajuan tersebut, namun untuk persyaratan dan sebagainya masih sama dengan sebelumnya hanya diajukan dalam bentuk soft file. Proses pengajuan melnggunakan aplikasi IntipDaqu (Portal of Intellectual Property). Beliau menginformasikan bahwa untuk pengisian pengajuan KI secara online dapat diakses pada Management System LIPI intipdaqu.inovasi.lipi.go.id. Untuk melakukan pendaftaran KI secara online para peserta sosialisasi pada umumnya dapat memahami, karena secara langsung narasumber menjelaskan dan mencontohkannya.

Dengan adanya pengajuan pendaftaran secara online akan mempermudah masyarakat (selaku pemohon pendaftaran KI) untuk mendaftarkan sendiri permohonan mereka di mana saja dan kapan saja. Masyarakat tidak lagi harus membawa banyak dokumen permohonan, pendaftaran juga bisa dilakukan di kantor masing-masing sentra KI, konsultan atau masyarakat dari kalangan mana saja, tidak perlu ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. (DK/THP)