Perjanjian Lisensi Rangka Sepeda Kayu

Perjanjian Lisensi Rangka Sepeda Kayu

Sepeda Kayu Fixie Tipe FIXMTB 03

LIPI memiliki teknologi pelengkungan kayu. Teknologi ini mampu membuat kayu lurus menjadi kayu lengkung dengan memberi tekanan pada sisi bagian dalam radius lengkung kayunya. Keunggulan teknologi ini yaitu dapat menghemat kayu karena mengurangi kayu yang terbuang akibat pemotongan lengkung. Dengan teknologi ini, baik kayu maupun LVL (Laminated Veener Lumber/kayu lapis) dapat dilengkungkan menjadi bentuk yang sesuai dengan yang diinginkan. Teknologi ini telah diaplikasi dalam pembuatan rangka sepeda kayu.

Sebagaimana diketahui bahwa LIPI adalah lembaga riset yang banyak menghasilkan produk inovasi. Agar produk inovasi dapat termanfaatkan, maka harus melalui proses alih teknologi. Pihak swasta yang dapat memproduksi produk inovasi LIPI secara massal yang kemudian mengkomersilkannya, dapat mengalihteknologikan produk inovasi tersebut dengan menggunakan skema lisensi.

Pada hari Senin (10/02), PPII LIPI mengadakan rapat perjanjian lisensi rangka sepeda kayu. Kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan inventor dengan perusahaan dan pihak PPII sebagai fasilitator perjanjian lisensi. Hadir dalam kegiatan ini, Wahyu Dwianto (inventor kayu lengkung P2 Biomaterial LIPI), Didi Diarsa (salah satu pendesain rangka sepeda kayu tipe FIXMTB 03), Amran Zakaria (direktur PT Panel Agro Lestari/PT PAL) dan perwakilan PPII yaitu Th. Ningsi Astuti (Plt. Kepala Bidang Alih Teknologi PPII) beserta tim alih teknologi.

Rapat perjanjian lisensi rangka sepeda kayu

Dalam perjalanan mengalihteknologikan rangka sepeda kayu, Didi Diarsa menceritakan berbagai kendala yang pernah dialami. Mulai dari ide menawarkan bike city kepada walikota Bogor, walikota Depok dan juga kepada Presiden. Dari semuanya, Didi mendapat respon positif terhadap penawaran tersebut, namun kesulitan terletak pada realisasinya. Didi berharap melalui PT PAL, rangka sepeda kayu dapat termanfaatkan dengan baik dan segera diproduksi.

Wahyu Dwianto juga menyampaikan saran agar PT PAL tidak hanya menjual produk sepeda kayu, tetapi juga menyewakan produk tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai teknologi kayu lengkung dan juga sepeda kayu. Th. Ningsi setuju dengan hal itu dengan menanggapi agar penyewaan berada di area Kebun Raya Bogor. Masyarakat yang berkunjung dapat menikmati suasana dengan mengelilingi Kebun Raya Bogor menggunakan sepeda kayu yang disewa. Th. Ningsi juga akan menginisiasi kerjasama penyewaan sepeda kayu kepada PT Dyandra Promosindo sebagai pengelola Kebon Raya LIPI. Diharapkan penyewaan ini tidak hanya diterapkan di Kebun Raya Bogor, tetapi juga di 4 (empat) Kebun Raya LIPI lainnya.

Melalui diskusi dalam kegiatan tersebut, semua pihak membuat kesepakatan bersama yang dituangkan dalam draft perjanjian. Finalisasi perjanjian akan dilakukan seoptimal mungkin agar realisasi dapat berjalan lancar.(S.N)