Workshop Intelektual Property digelaran ISE 2019

Workshop Intelektual Property digelaran ISE 2019

Sebagai peraih peringkat pertama pendaftar paten terbanyak yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada awal tahun 2019, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki kekayaan intelektual sebanyak 1.063  dimana 946 diantaranya berupa Paten (http://intipdaqu.inovasi.lipi.go.id/). Menyandang predikat tersebut, LIPI telah lama aktif dalam mendukung peningkatan produktivitas kekayaan intelektual di Indonesia dengan menyediakan kanal khusus bagi para inventor di Indonesia untuk menyerap ilmu, wawasan dan pengalaman secara langsung dari pengelola kekayaan intelektual salah satunya dengan menyelenggarakan workshop intelectual property.

Pada gelaran Indonesia Science Expo 2019, Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) LIPI menyelenggarakan kegiatan “Intelectual Property Workshop” yang berlangsung selama tiga hari pada 23 – 25 Oktober 2019.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah akademisi dari beberapa perguruan tinggi, karyawan BUMN dan litbang instansi pemerintahan yang aktif dalam melakukan riset untuk menghasilkan produk inovasi. Salain itu, ikut serta juga personal yang aktif sebagai pengelola sentra kekayaan intelektual dari berbagai instansi yang giat melakukan riset.

Pada workshop ini, peserta dibekali materi yang berguna agar kekayaan intelektual dapat dikelola dengan baik, seperti managemen kekayaan intelektual yang efektif dan juga peraturan kekayaan intelektual terbaru dari Dirjen KI. Pada hari kedua, para penyaji membagikan pengalaman empiris dalam mentransformasikan suatu ide menjadi sebuah inovasi. Lebih khususnya disuguhkan pemaparan yang menjelaskan bagaimana membuat draft paten yang baik dan benar dengan langkah yang sederhana dan aplikatif. Yang lebih menarik lagi, penyaji membagikan tips dan trik sehingga sebuah produk inovasi dapat didaftarkan ke Dirjen KI menjadi sebuah paten.

Dalam kegiatan workshop ini, peserta tidak hanya diberikan materi mengenai kekayaan intelektual. Peserta juga melakukan praktek dari sebuah studi kasus, dimulai dengan mengidentifikasi suatu produk inovasi yang memenuhi syarat sebagai produk yang dapat dijadikan paten. Peserta secara aktif menyusun draft paten yang kemudian mempresentasikannya untuk mendapat tanggapan dari peserta lain dan juga peyaji materi.

Lebih lanjut, peserta diberikan pengetahuan mengenai valuasi aset kekayaan intelektual. Bagaimana menghitung nilai benefit suatu produk paten, serta resiko finansial yang telah dikeluarkan sebagai sumber nilai aset tersebut dan juga resiko yang akan timbul karenanya dimasa mendatang. Dan sebagai materi terakhir yang sekaligus merupakan tahap akhir dimana inventor dan institusi mendapat manfaat benefit dari paten, peserta diberi wawasan dalam transfer teknologi kepada pihak pengguna seperti industri dan pihak lainnya yang dapat memanfaatkan produk inovasi tersebut. (SN)