PELATIHAN DESAIN KEMASAN DAN PEMASARAN PRODUK BAGI UMKM

PELATIHAN DESAIN KEMASAN DAN PEMASARAN PRODUK BAGI UMKM


Setiowiji Handoyo S.E., M.E. memberikan arahan kepada peserta pelatihan

Desain kemasan dan pemasaran produk dalam bisnis penjualan produk makanan seringkali menjadi problem bagi produksen terutama bagi pengusaha tingkat kecil menengah (UMKM). Untuk mengatasi dan meningkatkan kesuksesan tentang hal tersebut Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPII-LIPI) mengadakan pelatihan terkait kemasan dan pemasaran produk yang terselenggara pada Selasa 10 Desember 2019 di ruang Aditorium PPII Cibinong.

Adityo Wicaksono memberikan sharing tentang kemasan produk berjudul “Desain ProdukUntuk Pengembangan Bisnis Usaha Kecil Menengah”. Mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan beliau dan pengalamannya selama bertugas di PPII (sebelumnya Pusinov), termasuk pendampingan kepada salah satu pengusaha UMKM  di wilayah bogor. Ia mencontohkan produk bernama PalaQ kepada peserta pelatihan yang berjumlah lebih dari 60 orang, bahwa menurutnya bisnis penjualan produk biasanya hanya sampai pada level menengah karena untuk sekala yang lebih besar dihadapkan tantangan cost yang lebih besar, misalnya seperti pembuatan pabrik, bahan dan peralatan dan lain-lain. Dengan demikian bisnis produk untuk tingkat yang lebih besar biasanya dijual ke investor.

Narasumber jebolan S2 Master of Bisnis (Innovation dan Enteprenership) di Australia ini menjelaskan tentang Desain kemasan produk dengan cara merubah sudut pandang kemasan itu sendiri. Menurut pendapatnya bahwa  disamping kemasan sebagai pembungkus dan salah satu komponen biaya operasional, kemasan juga sebagai satu identitas dan sebagai alat yang efektif untuk customer engagement. Kemasan juga merupakan salah satu alat untuk mengembangkasn bisnis menjadi lebih menguntungkan. Tentang desain kemasan, banyak hal yang ia sampaikan pada forum pelatihan ini dan diselingi dengan tanya jawab kepada peserta pelatihan sehingga terkesan interaktif.

Suasana pelatihan dalam ruangan Auditorium PPII LIPI

Orang yang dipanggil sehari Adit ini juga menyampaikan sekitar pertimbangan merubah desain kemasan, komponen desain kemasan / label, proses desain, cetak kemasan berbahan kertas dan lain lain. Dalam hal komponen disain kemasan menurutnya bahwa Merek harus dibuat besar karena akan dihapal oleh customer; gambar produk dibanding dengan nama produk sebaiknya  lebih besar gambar produk; bila menggunakan gambar atau foto harus menggunakan resolusi tinggi; pencahayaan cukup terang dan mencantumkan deskripsi atau spesifikasi produk antara lain seperti manfaat/khasiat, komposisi dan tatacara pemakaian atau dosis, serta mencantumkan binaan misalnya binaan LIPI, binaan Bank atau binaan Pertamina, hal ini menurutnya akan lebih prestisius.

Menjelang siang sebelum mengakhiri presentasi dari Adit, Setiowiji Handoyo S.E., M.E., selaku Kepala Bidang Inkubasi Teknologi Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi  memberikan arahan berkaitan pelatihan ini diantaranya adalah bahwa kegiatan tidak hanya sampai di pelatihan namun akan diprogramkan bidang Alih Teknologi menerima calon pengusaha star up dengan cara mengajukan proposal yang diajukan ke PPII. “UMKM yang mempunyai kendala segi teknologi dan kemasan termasuk packeging akan difasiliasi dan didampingi PPII bidang Altek” ungkapnya. Hal tersebut berlaku bagi calon star up dan UMKM yang proposalnya telah disetujui dan telah melalui penandatanganan PKS. Memanfaatkan fasilitas sesuai dengan standar Badan POM Harapannya adalah dari hasil kegiatan ini bisa berlanjut kerjasama antara pengusaha star up dan UMKM dengan PPII LIPI. Pertanyaan dari peserta terkait pemasaran, beliau menjawab bahwa calon pengusaha star up yang sudah kerjasama dengan PPII akan difasilitasi terkait dengan jaringan pemasarannya.

Peserta pelatihan antusias menerima paparan dari narasumber

Sesi berikutnya setelah isoma paparan kedua dari Bukky Suwarno MBA mempresentasikan  tentang pemasaran berjudul “Instagram Marketing”. Beliau juga mengawali dengan pengenalan diri dan seterusnya memaparkan tentang pemasaran produk melalui media sosial instagram (medsos IG). Medsos IG sangat populer di Indonesia termasuk para peserta pelatihan ini telah banyak memilikinya, hal ini dapat dimanfaatkan sebagai media untuk pemasaran produk. Secara garis besar ia menginformasikan tentang perkembangan saat penggunaan IG untuk pemasaran berdasarkan hasil penelitian. Seperti contoh bahwa yang mencari dan menanyakan tentang produk sekitar 63% – 67% pelanggan berkomunikasi melalui IG.

Selanjutnya setelah pelanggan mempunyai pengalaman yang baik menggunakan sosmed  IG dengan produk yang ditawarkan, 71% dari cutomers dapat merekomendasikan produk yang ditawarkan tersebut ke orang lain. Artinya “kalau ada yang nanya dibalas ga pake lama dan aktif terus” ucapnya sambil tersenyum. Pemasaran melalui IG sebaiknya berfokus pada pelanggan lama atau yang sudah ada daripada yang pelanggan baru. Menurutnya hampir 80% keuntungan berasal dari eksisting customers atau pelanggan yang sudah ada dan 20% dari pelanggan baru. Jadi menurut hasil penelitian ini yang banyak menguntungkan bisnis penjualan produk melalui sosial media IG adalah customers lama. Pelanggan baru yang 20% akan mengasilkan keuntungan 80% jadi ada rumus 20% dan  80%.

Kenapa kita harus menggunakan sosial media untuk marketing?. Sosok lulusan S2 National Chung Hsing University Taiwan menjelaskan tentang hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia adalah nomer tiga di dunia negara teraktif pengguna akun medsos, setelah India dan Amerika. Jakarta  merupakan kota teraktif ke dua menggunakan akun sosmed setelah Bangkok. “Untuk jenis sosmed Facebook nomor tiga dan instagram nomor empat” tambahnya. Oleh karena itu gambaran ini dapat dimanfaatkan bagi peserta UMKM untuk memasarkan produknya melalui sosial media. Banyak hal lain yang dijelaskan dengan apik terkait pemasaran melalui sosial media terutama IG semuanya dipaparkan menurut hasil penelitian.

Salah satu ruangan laboratorium peralatan untuk produksi di gedung pilot plan PPII LIPI

Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini yang dapat dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan sesuai topik dan mengikuti hingga akhir acara. Bagian akhir pelatihan para peserta melakukan survei ke pilot plan untuk melihat sarana yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis produk usai presentasi di ruangan. Testimoni dari beberapa peserta berpendapat bahwa dari hasil pelatihan ini peserta merasa bahwa materi yang disampaikan sangat bagus sebagai bahan pengembangan UMKM, salah satunya dengan memanfaatkan sosial media, dan mereka berharap agar pelatihan ini dilanjutkan dengan praktek. (DK/THP)