VISITASI PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO KE PPII LIPI

VISITASI PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO KE PPII LIPI

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPII-LIPI) menerima kunjungan rombongan dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur, Kamis 7 November 2019. Dr. Yan Rianto M.Eng. selaku kepala PPII menerima rombongan berjumlah 19 orang yang dipimpin oleh kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Probolinggo Ir. Sudiman M.M. di ruang auditorium PPII CSC Cibinong.


Dr. Yan Rianto M.Eng. (tengah), Ir. Sudiman M.M. (kiri) dan Dr. Syahruddin Said M.Agr. Sc. (kanan) (Foto DK)

Sudiman mengawali pembicaraan diantaranya pertama menindaklanjuti MOU tahun 2017 antara Walikota Probolinggo dengan LIPI, kedua Perjanjian Kerjasam Sama antara kepala Dinas Pertanian dengan Kepala Pusat Inovasi LIPI 2018 tentang formulasi pakan ternak. Berikutnya untuk kunjungan kali ini berkenaan dengan teknologi dan pengelolaan anggur, jagung dan transfer embrio ternak sapi. Secara singkat untuk poin pertama dan kedua telah dijawab oleh Yan Rianto dimana teknologi yang berkaitan dengan hal tersebut LIPI telah mengembangkannya di Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna. Beliau mencontohkan berkaitan jagung bahwa di P2TTG telah ada teknologi pembuatan tepung jagung sebagai bahan pembuatan mie.


Foto bersama di ruang Auditorium PPII LIPI (Foto DK)

Pada kesempatan ini terkait ilmu pengetahuan dan teknologi ternak sapi PPII LIPI menghadirkan narasumber Dr.Syahruddin Said M.Agr. Sc. dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI didampingi Dr. Ekayanti Mulyawati Kaiin M.Si. dan Muhammad Gunawan M.Si. Syahruddin mempesentasikan materi dengan judul  “Transfer Embrio : Produksi Bibit Unggul untuk Swasembada Daging Nasional”. Awal paparannya memperlihatkan kondisi aktual peternakan dan potensi pada pembangunan dan teknologi pada peternakan sapi , yang pada intinya mencuplik dari data Bappenas 2013 bahwa kondisi produksi tetap sedangkan kebutuhan meningkat, “produksi daging stagnan tetapi kebutuhannya meningkat (naik) terus diperkirakan sampai 2020, ärtinya setiap tahun kebutuhan kita jauh lebih besar, sementara produksi kita relatif tidak berubah” tegasnya. Namun menurut pendapatnya juga bahwa kondisi ini harus dilihat sebagai peluang untuk melakukan bisnis peternakan.


Suasana di ruang Auditorium PPII LIPI (Foto DK)

Salah satu terobosan untuk menjawab tantangan tersebut khususnya di Probolinggo maka teknologi dan inovasi sangat penting dilakukan. Iptek transfer embrio menurut kepala Lab. Reproroduksi Ternak itu dapat menjadi salah satu solusinya. selanjutnya ia menjelaskan tentang Inseminasi Buatan (IB)  yang merupakan salah satu cara pengembangbiakan ternak sapi. Beliau menerangkan tentang proyeksi kebutuhan dan produksi daging nasional, protein hewani dan index pembangunan manusia, program swasembada daging nasional,  permasalahan teknis, program prioritas dan saran kebijakan yang mengacu kepada peraturan menteri pertanianbernomor 02/Permentan/PK440/2/2017.  Salah satu kebijakan menurut peraturan tersebut adalah merekomondasikan tentang kewajiban feedlote runtuk melakukan usaha pembibitan/pembiakan maksimum 20% dari kapasitas kandang, bukan20% setiap impor bakalan, dan pemberian insentif setiap kelahiran anak sapi hasil program pembibitan atau pembiakan. Selain itu presenter menerangkan tentang Sperma Sexing, Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio; Teknologi In Vitro Fertilisasi (IVF) : Kelahiran anak sapi hasil transfer embrio -IVF-SEXED.


Survey ke salah satu ruangan di pilot plan (Foto SN)

Teknologi TE (transfer embrio) pada sapi merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Pada prinsipnya teknik TE adalah rekayasa fungsi alat reproduksi sapi betina unggul dengan hormon super ovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Sel telu  rhasil super ovulasi ini akan dibuahi oleh spermatozoa unggul melalui teknik IB. sehingga terbentuk embrio yang unggul. Embrio yang diperoleh dari donor dikoleksi dan dievaluasi, kemudian ditransfer keinduk resipien sampai terjadi kelahiran. TE memungkinkan induk betina unggul memproduksi anak dalam jumlah banyak tanpa harus bunting dan melahirkan. TE dapat mengoptimalkan bukan hanya potensi dari jantan saja tetapi potensi betina berkualitas unggul juga dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selama berada di ruangan rombongan sangat antusias menyimak penjelasan dari presenter terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan dari peserta rombongan. Seoerti salah satu penanya bernama Sudarto seorang peternak berkomentar seputar permasalahan di daerahnya tentang regulasi yang lemah terkait dengan banyaknya pemotongan sapi dan penangan/pemeliaraan ternak sapi setelah bunting tidak ditunjang dengan pakan yang memadai. Selesai  tanya jawab dilanjutkan survei ke pilot plan PPII. (DK, SN).