PPII AKAN RANCANG SMART FISHERY SEBAGAI BAGIAN KLUSTER PERTANIAN

PPII AKAN RANCANG SMART FISHERY SEBAGAI BAGIAN KLUSTER PERTANIAN

Peninjauan lapangan ke lokasi rencana kolam perikanan (Foto DK)

Kluster pertanian merupakan salah satu kegiatan Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek (PPII) LIPI. Rencana kegiatan yang sedang dilakukan tahun 2019 melibatkan PPII dan satuan kerja lain. Untuk pengembangan industri perikanan 4.0, PPII berkoordinasi dengan Pusat Penelitian Limnologi, Pusat Penelitian Fisika dan Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI. Rencananya akan menggunakan raiser untuk kegiatan perikanan, namun karena masih dalam masa negosiasi maka tempat yang akan digunakan kegiatan berada di area PPII terlebih dahulu.

Sebagai pengantar awal pertemuan yang berlangsung Selasa 15 Mei 2019, Uus sebagai koordinator menyampaikan terkait rencana proyek pengembangan perikanan yang merupakan bagian dari kegitan kluster pertanian. Tujuan yang ingin dicapai antara lain : menghasilkan start up semaksimal mungkin, membangun smart fishery yang mencakup dalam penelitian, expose/etalase dan produksi. Beberapa peneliti dari Limnologi dan Fisika memberikan presentasi, pengarahan yang dilanjutkan dengan diskusi terkait hal tersebut.

Kepala P2 Limnologi, Fauzan menyampaikan tentang seputar penelitian dan pengalamannya berkaitan perikanan, dalam presentasinya membahas tentang tujuan smart fishery, ruang lingkup limnologi, teknologi terapan limnologi, segmentasi produk dan lain-lain. Sedangkan yang terkait dengan inovasi teknologi, Peneliti Fisika LIPI Nurul membahas tentang teknologi “nano bubble” untuk perikanan yang merupakan bagian adopsi teknologi Jepang. Selain itu beliau juga menyampaikan tentang revolusi perikanan yang tidak ada limbah.

Dr. Ir. Fauzan A. M.Sc. (kiri) dan Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman M.Eng. (kanan) Foto DK

Smart fishery yang merupakan perikanan berbasis inovasi teknologi internet of things  (IoT) yaitu sistem kontrol yang menggunakan komputerisasi dan digital atau peralatan kekinian akan dibuat oleh konsorsium smart fisheries LIPI. Namun menurut Fauzan bahwa hal tersebut hanyalah merupakan bagian dari teknologi terrapan Pusat Penelitian Limnologi yaitu dikelompokkan pada segi ecotron dan masih dalam cita-citanya, sedangkan faktor lainnya meliputi penelitian terapan yang tergolong bioremediasi, pakan alam, biofilter, wet land, dan Integrated Multy Tropic Agriculture (IMTA). Fauzan mengusulkan bahwa dalam membangun proyek smart fishery sebaiknya mempertimbangkan hal-hal seperti misalnya memiliki icon yang khas, mempunyai nilai FCR sangat bagus, berorientasi pada komoditas yang sedang tren atau kekhasan lainnya.

Dalam menentukan pengembangan budidaya perikanan faktor utama yang harus diperhatikan adalah air sebagai media hidup ikan. Kualitas air memberikan kontribusi sekitar 40% dalam menentukan budidaya perikanan, dan 60% ditentukan oleh hama, penyakit, pakan dan lain-lain. Sumber air rencananya akan menggunakan air tanah dan data yang telah diperoleh PPII sudah ada. Selain itu faktor sistem kontrol juga mempengaruhi keberhasilan dalam membangun smart fishery.

Pertemuan awal kegiatan rancangan smart fishery di ruang 209 PPII (Foto DK)

Kondisi air tanah di wilayah Cibinong khususnya Cibinong Science Center (CSC) bervariasi, seperti yang disampaikan Fauzan bahwa air sumur yang paling baik untuk perikanan di sekitar CSC adalah di area perkantoran Limnologi. Namun tidak menutup kemungkinan air tanah sekitar PPII dapat diharapkan memenuhi syarat, dan dari data yang sudah pernah ada akan dianalisis. Analisis akan segera dilakukan dan menurut rencana dijadwalkan pada bulan ini atau diperkirakan memakan waktu satu bulan bersamaan dengan rencana pembuatan desain lokasi kolam.

Keberhasilan dalam smart fishery berkaitan dengan pakan ikan dapat ditentukan dengan nilai Food Convertion Ratio (FCR). Secara finansial nilai FCR akan mudah berpengaruh pada tingkat keuntungan yang didapat pada satu periode budidayakarena pakan ikan merupakan penyumbang biaya terbesar pada suatu usaha budidaya pakan jumlah padat tebar dikalikan dengan berat rata-rata sama dengan jumlah total panen kemudian total pakan dibagi dengan jumlah total panen. secara sederhana dapat dikatakan seberapa banyak pakan yang diperlukan untuk menghasilkan satu kilogram ikan. Satuan FCR ditentukan dalam prosentase, semakin kecil nilai FCR semakin baik.

Desain akan dilakukan oleh tim dari Limnologi setelah peninjauan lokasi rencana kolam perikanan. Gedung pangan PPII yang telah disurvey cukup luas diperkirakan 2.000  meter2 dengan kondisi bangunan permanen dengan dinding tembok dan tiang beton, atap permanen dengan kerangka besi. Dari sisi pencahayaan untuk perikanan menurut tim dari Limnologi kurang, karena air kolam memerlukan sinar matahari yang cukup. Namun masih dapat dipertimbangkan apabila nantinya dapat direkayasa. Gedung memiliki dua lantai namun berbeda luasannya, lantai bawah sangat luas dibandingkan dengan lantai 2 diperkirakan 1/3 dari lantai bawahnya. Kondisi akses menuju dua lantai tersebut dengan pintu yang berbeda. Tim Limnologi berpendapat bahwa lantai dua dapat dimanfaatkan untuk ruangan labolatorium dan ruangan pegawai yang akan bekerja di area tersebut. (DK)